Kamis, 22 Desember 2016
Faktor rendahnya partisipasi pria dalam keluarga berencana
Faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi pria (suami) dalam Keluarga Berencana (KB), yaitu : (BKKBN, 2007)
a. Terbatasnya sosialisasi dan promosi KB pria
Menurut Sureni, dkk, (1999) Faktor penguat merupakan faktor penyerta (yang datang sesudah) perilaku yang memberikan ganjaran, insentif, atau hukuman atas perilaku dan berperan bagi menetap atau lenyapnya perilaku itu, yang termasuk kedalam factor ini adalah faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada tujuan dan jenis program. Di dalam pendidikan pasien, penguat mungkin berasal dari perawat, dokter, pasien lain, dan keluarga. Apakah penguat ini positif ataukah negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan, yang sebagian diantaranya lebih kuat daripada yang lain dalam mempengaruhi perilaku (Mutahiah, 2011)
Berdasarkan pendekatan di atas, temuan peneitian menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi pria dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi pada dasarnya tidak terlepas dari operasional program KB yang selama ini dilaksanakan mengarah kepada wanita sebagai sasaran. Demikian juga masalah penyediaan alat kontrasepsi yang hampir semuanya untuk wanita, sehingga terbentuk pola pikir bahwa para pengelola dan pelaksana program mempunyai persepsi yang dominan yakni yang hamil dan melahirkan adalah wanita, maka wanitalah yang harus menggunakan alat kontrasepsi. Oleh sebab itu, semenjak tahun 2000 pemerintah secara tegas telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan partisipasi pria dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi melalui kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan (Mutahiah, 2011)
b. Adanya persepsi bahwa wanita yang menjadi target program KB
Menurut Sumadi rendahnya penggunaan kontrasepsi di kalan gan pria diperparah oleh kesan selama ini bahwa program KB hanya diperuntukan bagi wanita, sehingga pria lebih cenderung bersifat pasif. Hal ini juga nampak dari kecenderungan pengguna tenaga perempuan sebagai petugas dan promotor untuk kesuksesan program KB, padahal praktek KB merupakan permasalahan keluarga, dimana permasalahan keluarga adalah permasalahan sosial yang berarti juga merupakan permasalahan pria dan wanita. Disamping itu kurangnya partisipasi pria dalam penggunaan alat kontrasepsi adalah karena keterbatasan metode untuk pengaturan fertilitas yang dapat dipilih pria (Mutahiah, 2011)
Secara biologis pengendalian fertilitas pria lebih sulit dibanding wanita karena pria selalu dalam kondisi subur dengan jumlah sperma yang dihasilkan sangat banyak. Masalah lain untuk mengembangkan metode kontrasepsi baru bagi pria adalah kebutuhan dana yang sangat besar, sehingga menimbulkan hambatan dalam pengembangannya (Mutahiah, 2011)
c. Keterbatasan akses pelayanan KB
Berbagai hal yang terjadi dan menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan sering mengakibatkan warga masyarakat kurang mampu bersikap terbuka untuk secara jujur menyatakan persepsi dan pandangannya tentang suatu program yang diselenggarakan pemerintah. Karena sering dilandasi oleh persepsi yang kurang positif maka keterlibatan yang ada sering merupakan partisipasi semu. Keadaan yang demikian itu bila sering terjadi maka akan berakibat kurang lancarnya kegiatan sesuaii dengan rencana sehingga menyulitkan usaha pencapaian tujuan program secara utuh dan mantap (Sutopo, 2011).
d. Tingginya harga yang harus dibayar untuk MOP
Upaya peningkatan partisipasi pria terkendala oleh beberapa ketentuan peraturan daerah yang belum mengakomodir jenis kontrasepsi mantap pria, seperti halnya aspek biaya yang harus ditanggung peserta terlalu tinggi karena masuk rumpun tindakan operasi dirumah sakit umum daerah (RSUD). Dilain pihak biaya bantuan yang tersedia dari BKKBN jumlahnya terbatas dan tidak mampu menutupi biaya yang ditetapkan daerah. Penggunaan dana Asuransi keluarga miskin (ASKES GAKIN) belum lancar sebagaimana diharapkan. Kesepakatan antara pihak asuransi dengan pihak BKKBN sebagai penyedia data dandistribusi Kartu Askes masih mewarnai permasalahan di lapangan. Pelayanan Kontap juga terkendala oleh ketersediaan dan kesiapan tenaga pelayanan, dukungan sarana pelayanan juga menjadi kendala di beberapadaerah, tenaga terlatih sudah banyak yang alih tugas, peralatan kurang lengkap. (BKKBN, 2007)
e. Ketidaknyamanan dalam penggunaan KB pria (kondom)
Keterbatasan KB kondom salah satunya ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual. Adapun keterbatasan KB kondom yaitu :
1) Efektivitas tidak terlalu tinggi.
2) Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
3) Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung).
4) Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi.
5) Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual.
6) Beberapa klien malu untuk membeli kondom di tempat umum.
7) Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah (Sarwono, 2010).
f. Terbatasnya metode kontrasepsi pria
Fasilitas pelayanan KB sempurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis bedah/dokter umum yang telah mengikuti pelatihan dan memberikan pelayanan: cara seerhana, pil KB, suntik KB, IUD, pemasangan dan pencabutan implant, kontap pria, kontap wanita bagi fasilitas yang memenuhi persyaratan untuk pelayanan kontap wanita (Hartanto, 2009)
Pelaksanaan pelayanan konseling pada tahap ini menggunakan penggabungan antara pendekatan langsung dengan tidak langsung. Konselor secara aktif memberikan pembinaan kepada akseptor sehinggamemunculkan satu pemahaman konseli atau akseptor bahwa keluarga berencana merupakan kebutuhan dan bagian dari hidupnya danmewujudkannya adanya akseptor motivator. Namun kurangnya minat kontrasepsi pria dapat mengakibatkan pemerintah memproduksi alat kontrasepsi pria (Depkes RI, 2009).
g. Kualitas pelayanan KB pria belum memadai dan penerapan program kebijakan partisipasi pria dilapangan masih belum optimal
Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan (Saifuddin, 2009).
Belum banyaknya tenaga kesehatan dan BKKBN mengikuti pelatihan dalam melakukan evaluasi terhadap sarana, perlu dilihat bagaimana sarana, perlu dilihat bagaimana sarana pendukung kelancaran pelaksanaan pencatatan dan pelaporan diantaranya :
1) Ketersedian formulir dan kartu
2) Ketersedian Buku Petunjuk Teknis pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi
3) Ketersediaan faksimili untuk seluruh kabupaten/kota untuk kecepatan pelaporan
4) Ketersedian komputer sampai dengan tingkat kabupaten/kota (DepKes. RI. 2009)
h. Istri tidak mendukung suami ber-KB
Faktor yang terwujud dalam tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan. Salah satu faktor pendukung suatu perilaku kesehatan yaitu dukungan keluarga. Faktor dalam keikutsertaan suami dalam penggunaan KB kondom salah satunya dukungan istri (Sukardi, 2011)
Dukungan sosial keluarga sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Menurut Gunarsa (2009), keluarga adalah kelompok sosial yang bersifat abadi, dikukuhkan dalam hubungan nikah yang memberikan pengaruh terhadap keturunan dan lingkungan. Menurut Fadly (2009), Keluarga adalah unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan juga anak-anak yang selalu menjaga rasa aman dan ketentraman ketika menghadapi segala suka duka hidup dalam eratnya arti ikatan luhur hidup bersama.
i. Rendahnya kesertaan pria dalam KB dan kesehatan reproduksi di Indonesia.
Rendahnya keikutsertaan ber-KB dikarenakan partisipasi pria secara tidak langsung adalah dalam hal mendukung dalam berKB dan sebagai motivator sesuai dengan pengetahuan tentang KB yang dimilikinya. Mendukung dalam ber-KB apabila disepakati istri yang akan ber-KB peran suami adalah mendukung dan memberikan kebebasan kepada istri untuk menggunakan kontrasepsi atau cara/metode KB. Dukungan tersebut meliputi :
1) Memilih kontrasepsi yang cocok yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya
2) Membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar, seperti mengingatkan saat minum pil KB, dan mengingatkan istri untuk kontrol
3) Membantu mencari pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi
4) Mengantarkan istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk kontrol atau rujukan
5) Mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan tidak cocok
6) Membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode pantang berkala
7) Menggantikan pemakaian kontrasepsi bila keadaan kesehatan istri tidak memungkinkan (Sukardi, 2011)
Kurang berperannya suami dalam program Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi disebabkan oleh pengetahuan suami mengenai KB secara umum relatif rendah, sebagaimana terungkap pada penelitian Suherni, dkk (1999) bahwa pria yang mengetahui secara lengkap tentang alat kontrasepsi wanita dan pria hanya 6.2%. Itupun hanya diantara pria/suami yang menggunakan alat kontrasepsi. Hasil studi kualitatif BKKBN di DKI dan DIY tahun 1999, memperlihatkan bahwa sebagian besar pria mengetahui tujuan KB yaitu untuk mengatur kelahiran, membentuk keluarga yang bahagia serta menyadari bahwa KB itu penting. Hasil yang relatif sama juga dijumpai dari temuan studi di Jawa Tengah dan Jawa Timur (2001) yang dilakukan 393 pria kawin. Hasil studi ini memperlihatkan bahwa pengetahuan pria tentang pengertian dan tujuan KB pada umumnya cukup baik meskipun belum semua dapat menerangkan secara jelas. Lebih dari setengah responden (58%)menyatakan bahwa KB bermaksud untuk mengatur jarak kelahiran, sebesar 43,5% mengetahui bahwa KB bertujuan untuk mencegah kehamilan, dan yang mengetahui bahwa dengan menjadi peserta KB dapat membatasi kelahiran disampaikan oleh responden sebanyak 41.2%.26.
j. Pengetahuan dan kesadaran pria (suami) terhadap KB dan kesehatan reproduksi rendah
Keterlibatan pria didefinisikan sebagai partisipasi dalam proses pengambilan keputusan KB, pengetahuan pria tentang KB dan penggunaan kontrasepsi pria. Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa partisipasi pria tidak hanya dalam hal pemakaian alat kontrasepsi saja, tapi juga dalam hal pengambilan keputusan berKB oleh istri ataupun dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pria tentang KB digunakan untuk membantu mensosialisasikan program-program KB (Sukardi, 2011)
Langganan:
Postingan (Atom)
