Senin, 08 September 2014
Suasana Belasjar dapat meningkatkan hasil belajar
2.4. Suasana belajar
2.4.1. Suasana Belajar yang Kondusif
Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Lingkungan pembelajaran dalam hal ini, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif berarti kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran.
Suasana saat kita belajar dapat mempengaruhi efisiensi waktu belajar. Suasana yang kurang kondusif, bisa menimbulkan ketidak-fokusan dalam belajar, dan menyebabkan materi yang dipelajari tidak dapat dicerna dan dipahami dengan baik dan cepat oleh otak. Jadi kita membutuhkan waktu yang lumayan banyak untuk dapat mencerna dan memahami materi tersebut dengan baik.
Penataan ruang kelas juga bisa mempengaruhi suasana belajar yang efektif. Penataan kelas standar dapat dilakukan dalam lima gaya penataan, yaitu auditorium, tatap-muka, off-set, seminar, dan klaster.
1. Gaya auditorium, gaya susunan kelas di mana semua siswa duduk menghadap guru.
2. Gaya tatap muka, gaya susunan kelas di mana siswa saling menghadap.
3. Gaya off-set, gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.
4. Gaya seminar, gaya susunan kelas di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
5. Gaya klaster, gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil (Santrock, 2008)
2.4.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar
Faktor faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar adalah faktor-faktor yang menentukan terciptakan kondisi belajar yang kondusif, dinamis dan produktif bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Faktor –faktor tersebut secara garis besarnya dikelasifikasikan ke dalam dua faktor yaitu faktor exsogen dan faktor endogen. Fakto exsogen adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa terdiri dari faktor sosial dan non sosial. Sedangkan faktor endogen adalah faktor yang berasal dari diri siswa, terdiri dari faktor fisiologis dan faktor psikologis
2.4.2.1. Faktor Sosial
Faktor-faktor sosial di sini adalah faktor yang berhubungan dengan kehadiran manusia, baik manusia itu ada ( hadir ), maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan artinya tidak langsung hadir yang dapat mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Kehadiran sesorang atau orang lain pada waktu siswa sedang belajar dapat mengganggu suasana belajar dalam kelas. Misalnya ketika sesorang guru sedang menjelaskan materi pelajaran kepada siswa dalam kelas, siswa-siswa kelas sebelahnya ribut karena tidak ada gurunya atau siswa-siswa disebelahnya sedang belajar menyanyi atau tiba-tiba seorang siswa yang terlambat hadir datang mengetuk pintu . Hal ini dapat mengganggu suasana belajar di kelas tersebut. Selain daripada itu kehadiran seseorang secara tidak langsung mempengaruhi juga suasana belajar dalam kelas. Misalnya pada waktu siswa-siswa sedang mengerjakan soal-soal matimatika, maka terdengar suara radio atau televisi yang sedangkan menyiarkan pertandingan bulu tangkis atau sepak bola antara kesebelasan Indonesia melawan kesebelasan Korea Selatan
2.4.2.2. Faktor Non Sosial
Faktor-faktor non sosial yang dapat mengganggu suasana belajar ini tak terbilang banyaknya antara lain dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor alam dan alat-alat perlengkapan atau fasilitas yang digunakan untuk belajar. Faktor alam misalnya keadaan cuaca. Cuaca yang agak panas tentu akan mempengaruhi belajar siswa di dalam kelas. Selain daripada itu juga waktu belajar. Belajar di waktu pagi hari tentu lebih baik dari pada belajar pada waktu sore hari. Mengenai hal ini telah banyak dilakukan penelitian oleh ahli-ahli pendidikan. Mengenai fasilitas dapat dicontohkan misalnya tempat belajar. Belajar di tempat yang tenang tentu akan lebih berhasil jika dibandingkan dengan belajar di tempat yang gaduh. Hal inipun telah banyak dilakukan penelitian. Selain dari pada itu dapat pula dicontohkan misalnya keadaan gedung. Keadaan gedung yang baik, jika dibandingkan dengan keadaan gedung belajar yang kurang baik, tentu suasana belajarnya akan berbeda. Keadaan gedung yang baik ditunjang dengan fasilitas belajar yang cukup tentu akan membawa pengaruh pada suasana belajar yang baik.
2.4.2.3. Faktor Fisiologis
Faktor fisiologis individu juga dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa atau siswi. Faktor fisiologis adalah keadaan jasmani manusia. Keadaan jasmani siswa atau siswa yang segar tentu akan lain dengan keadaan jasmani yang tidak segar pada saat menerima pelajaran dalam kelas.
Keadaan jasmani yang lelah tentu akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani siswa yang tidak lelah. Dalam kaitan ini perlu dijelaskan mengenai pengaruh nutrisi terhadap tonus jasmani manusia. Kekurangan kadar makanan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani yang mengakibatkan timbulnya kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, daya tahan rendah, konsentrasi rendah dan sebagainya.
Hal ini tentu saja akan membawa pengaruh terhadap aktivitas belajar siswa dalam kelas. Selain dari pada itu keadaan fungsi fisiologis juga mempengaruhi aktivitas belajar siswa terutama fungsi panca indera. Sampai saat ini telah terbukti bahwa diantara panca indera yang lima macam tersebut, mata dan telinga memegang peranan yang penting sekali dalam belajar. Penyelidikan-penyelidikan mengenai daya diskriminasi, kemampuan membuat orientasi, ketepatan dan kecepatan persepsi langsung bersangkut paut dengan fungsi panca indera ini. Lebih-lebih penglihatan ( mata ) dan pendengaran ( telinga ). Siswa yang selalu bertanya karena kurangnya pendengaran dan penglihatan tentu akan mengganggu aktivitas belajar di kelas.
2.4.2.4. Faktor-Faktor Psikologis
Belajar sebagai masalah psikologis disyaratkan oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis memegang peranan yang menentukan di dalam belajar. Karena itu sudah sepantasnya faktor-faktor ini mendapatkan pembahasan dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar dalam kelas. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor perhatian, faktor kognitif, faktor affektif, faktor konatif atau motivasi dan intelegensi.
1. Faktor Perhatian
Aktivitas belajar mengajar yang baik adalah suatu aktivitas belajar mengajar dimana siswa mendengarkan penjelasan-penjelasan dari guru dengan penuh perhatian dan guru menyampaikan bahan pelajaran dengan penuh semangat. Oleh karena itu di dalam proses belajar mengajar diusahakan agar guru dapat menimbulkan perhatian siswa-siswa nya. Biasanya hal yang menarik perhatian adalah hal yang sangat bersangkut paut dengan pribadi siswa. Suasana belajar yang tidak menarik perhatian akan menimbulkan keributan di dalam kelas.
Hal-hal yang menarik perhatian dapat ditunjukan melalui tiga segi ( Wasty Soemanto, 2008 ), yaitu :
1) Segi objek ; hal-hal yang menarik perhatian yaitu hal-hal yang keluar dari konteknya, misalnya : – benda yang bergerak dalam situasi lingkungan yang diam atau tenang. – Warna benda yang lain dari warna benda-benda di sekitarnnya. – Stimuli yang beraksi berbeda dari aksi lingkungannya. – Keadaan, sifat, sikap dan cara yang berbeda dari biasanya – hal yang muncul mendadak dan hilang mendadak.
2) Segi subjek ; hal-hal yang menarik perhatian adalah hal-hal yang sangat bersangkut- paut dengan pribadi subjek, misalnya : – hal-hal yang bersangkut-paut dengan kebutuhan subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan minat dan kesenangan subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan profesi dan keahlian subjek – hal-hal yamh bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman subjek hal -hal bersangkut paut dengan tujuan dan cita-cita subjek.
3) Segi komunikator ; Komunikator yang membawa subjek ke dalam posisi yang sesuai dengan lingkungannya, misalnya : – guru/komunikator yang memberikan pelayanan/perhatian khusus kepada subjek – guru/komunikator yang menampilkan dirinya di luar konteks lingkungannya. – guru/komunikator yang memiliki sangkut paut dengan subjek. Usaha-usaha lainnya yang dapat dilakukan dalam membangkitkan perhatian anak didik dalam belajar mengajar, yaitu penggunaan metode penyajian pelajaran yang dapat diterima oleh anak didik. Penerimaan ini akan efektif apabila pelajaran sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kemampuan anak didik.
Ada macam-macam perhatian yang tepat dilakukan dalam belajar yaitu :
1) Perhatian intensif perlu digunakan, karena kegiatan yang disertai dengan perhatian itensif akan lebih terarah.
2) Perhatian yang disengaja perlu digunakan, karena kesengajaan dalam kegiatan akan menegmbangkan pribadi anak didik.
3) Perhatian spontan perlu digunakan, karena perhatian yang spontan cenderung dapat berlangsung lebih lama dan intensif daripada perhatian yang disengaja.
2. Faktor Kognitif
Faktor kognitif juga dapat mempengaruhi suasana belajar di kelas. Faktor ini berkaitan erat dengan perhatian. Suasana belajar di mana guru menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode ceramah tanpa menggunakan alat peraga yang menarik dapat menimbulkan kebosanan bagi siswa yang belajar di kelas. Sehingga tujuan institusional yang diharapkan oleh guru tidak akan tercapai karena siswa-siswa tidak mengerti dan tidak mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru dengan penuh perhatian. Oleh karena itu di dalam proses belajar mengajar, faktor kognitif siswa ini perlu diperhatikan dengan jalan menimbulkan minat dan perhatian siswa terhadap bahan pelajaran yang disampaikan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk membangkitkan minat belajar siswa. Pertama, menggunakan cara atau metode dan media mengajar yang bervariasi.
Dengan metode dan media yang bervariasi kebosanan dalam belajar dapat dikurangi atau dihilangkan. Kedua, memilih bahan yang menarik minat dan kebutuhkan siswa. Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik perhatian, dengan demikian akan membangkitkan minat untuk mempelajarinya. Ketiga, memberikan sasaran antara. Sasaran akhir belajar adalah lulus ujian atau naik kelas. Sasaran akhir ini baru dicapai pada akhir tahun. Untuk membangkitkan minat belajar maka diadakan sasaran antara, seperti ujian semester, tengah semester, ulangan harian, kuis, dan sebagainya. Keempat, memberi kesempatan untuk sukses.
Bahan atau soal-soal yang sulit hanya bisa diterima atau dipecahkan oleh siswa pandai, siswa yang kurang pandai sukar menguasai atau atau memecahkannya. Agar siswa yang kurang pandai bisa menguasai/memecahkan soal, maka berikan bahan/soal yang sesuai dengan kemampuannya. Keberhasilan yang dicapai siswa dapat menimbulkan kepuasan dan kemudian membanglitkan minat belajar. Kelima, ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang hangat berisi rasa persahabatan, ada rasa humor, pengakuan akan keberadaan siswa, terhindar dari celaan dan makian dapat membangkitkan minat belajar siswa. Keenam, adakan persaingan sehat. Persaingan yang sehat dapat membangkitkan minat belajar. Siswa dapat bersaing dengan hasil belajarnya sendiri atau dengan hasil belajar yang dicapai orang lain. Dalam persaingan ini dapat diberikan pujian, ganjaran ataupun hadiah. ( R.Ibrahim dan Nana Syaodah s, 2008)
3. Faktor Afektif
Faktor afektif juga dapat mempengaruhi suasana di kelas. Faktor afektif ini berkaitan dengan perasaan. Perasaan yang saling senang menyenangi antara siswa –siswa dalam kelas, guru dengan siswa akan menimbulkan situasi dan kondisi belajar yang kondusif, sehingga guru dapat menyampaikan bahan pelajaran sesuai dengan rencana pengajaran ( Satuan pelajaran ) dan siswa dapat menerima bahan pelajaran tersebut dengan baik. Oleh karena itu hubungan manusiawi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa dalam interaksi belajar mengajar perlu dibina dengan sebaik-baiknya. Apabila siswa tidak menyenangi gurunya sudah barang tentu pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, tidak dikuasainya karena siswa malas mempelajarinya karena benci dengan guru bidang studi tersebut.
Selain dari pada itu juga hubungan yang tidak menyenangi antara siswa dengan siswa juga akan menimbulkan suasana belajar yang tidak menyenangkan yang akhirnya mempengaruhi situasi belajar dalam kelas, malahan mungkin sampai keluar kelas.
4. Faktor Konatif atau Motivasi
Motif adalah suatu keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan. Jadi motif, bukanlah sesuatu yang dapat diamati, tetapi adalah hal yang dapat disimpulkan adanya karena sesuatu yang dapat kita saksikan. Oleh karena itu untuk menimbulkan sesuatu aktivitas dalam belajar bagi siswa, motif perlu dirangsang . Motivasi ini sangat penting artinya dalam kegiatan belajar mengajar. Pemberian motivasi kepada siswa menimbulkan pesaingan yang sehat diantara siswa-siswa dalam meningkatkan proses belajarnya. Suasana belajar mengajar di kelas akan hidup dan penuh semangat. Pemberian motivasi ini dapat dilakukan dengan memberikan hadiah sesuatu untuk siswa yang berprestasi dikelas, memberikan penghargaan, mengirim siswa untuk mengikuti lomba cerdas cermat dan sebagainya.
5. Faktor Intelegensi
Intelegensi memegang peranan penting di dalam kegiatan belajar. Pendapat para ahli mengenai intelegensi ini dalam belajar bermacam-macam. Sementara ahli menganggap intelegensi memegang peranan yang menentukan. Sedangkan yang lain menganggap intelegensi mempunyai peranan yang kecil saja. Namun pada umumnya para ahli beranggapan bahwa intelegensi itu merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Namun demikian harus pula diingat bahwa intelegensi ini dapat juga mempengaruhi aktivitas belajar mengajar di kelas, kalau seorang guru tidak tahu mengarahkan atau mengendalikannya.
Selanjutnya kita ketahui bahwa anak di dalam kelas, mempunyai kemampuan intelegensi yang berbeda-beda. Kemampuan anak tersebut secara garis besarnya dapat digolongkan ada yang pintar, sedang dan kurang. Seorang guru atau wali kelas harus mengetahui anak-anak yang termasuk ke dalam kelompok kelompok terebut.
Dengan memahami keadaan anak yang demikian, maka seorang guru akan dapat menentukan sikap terbaik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga dengan demikian akan menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif di kalangan anak atau siswa berupa timbulnya gairah belajar yang tinggi dikalangan siswa-siswa.
Pada suatu ketika guru tersebut memberikan tugas kepada salah seorang siswa mengerjakan soal-soal matimatika ke depan kelas. Ternyata soal tersebut merupakan soal yang tingkat kesukaranya cukup tinggi dan anak yang disuruh mengerjakan soal tersebut adalah anak yang termasuk dalam kelompok kurang. Akibatnya soal tersebut tidak mampu diselesaikan oleh anak yang bersangkutan. Demikian seterusnya soal yang sukar diberikan pada anak yang sedang ataupun kurang.
Soal yang sedang diberikan kepada anak yang kurang dan yang pintar. Sehingga menyebabkan anak yang kurang dan yang sedang tidak mampu menyelesaikan soal-soal tersebut. Akibatnya menurunnya gairah belajar anak. Berbeda dengan hal di atas, apabila seorang guru memahami tentang keadaan siswa-siswanya, maka di dalam memberikan tugas untuk mengerjakan soal soal matimatika tersebut tentu disesuaikan dengan kemampuan anak masing-masing. Akibatnya soal-soal yang dikerjakan anak anak atau siswa tersebut dapat diselesaikan semua. Hal ini akan menimbulkan semangat belajar pada anak atau siswa-siswa tersebut di dalam kelas.
Berdasarkan uraian di atas maka jelaslah kepada kita bahwa betapa pentingnya seorang guru atau wali kelas memahami tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar anak atau siswa di dalam kelas. Mengetahui faktor-faktor tersebut seorang guru atau wali kelas akan mampu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menciptakan, mempertahankan dan mengembangkan situasi belajar mengajar yang efektif, kondusif dan produktif di dalam kelas dalam rangka mencapai tujuan sebagaimana yang telah digariskan di dalam kurikulum sekolah sesuai dengan tngkat dan jenis pendidikan masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)
