Kamis, 22 Desember 2016

Faktor rendahnya partisipasi pria dalam keluarga berencana

Faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi pria (suami) dalam Keluarga Berencana (KB), yaitu : (BKKBN, 2007) a. Terbatasnya sosialisasi dan promosi KB pria Menurut Sureni, dkk, (1999) Faktor penguat merupakan faktor penyerta (yang datang sesudah) perilaku yang memberikan ganjaran, insentif, atau hukuman atas perilaku dan berperan bagi menetap atau lenyapnya perilaku itu, yang termasuk kedalam factor ini adalah faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada tujuan dan jenis program. Di dalam pendidikan pasien, penguat mungkin berasal dari perawat, dokter, pasien lain, dan keluarga. Apakah penguat ini positif ataukah negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan, yang sebagian diantaranya lebih kuat daripada yang lain dalam mempengaruhi perilaku (Mutahiah, 2011) Berdasarkan pendekatan di atas, temuan peneitian menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi pria dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi pada dasarnya tidak terlepas dari operasional program KB yang selama ini dilaksanakan mengarah kepada wanita sebagai sasaran. Demikian juga masalah penyediaan alat kontrasepsi yang hampir semuanya untuk wanita, sehingga terbentuk pola pikir bahwa para pengelola dan pelaksana program mempunyai persepsi yang dominan yakni yang hamil dan melahirkan adalah wanita, maka wanitalah yang harus menggunakan alat kontrasepsi. Oleh sebab itu, semenjak tahun 2000 pemerintah secara tegas telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan partisipasi pria dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi melalui kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan (Mutahiah, 2011) b. Adanya persepsi bahwa wanita yang menjadi target program KB Menurut Sumadi rendahnya penggunaan kontrasepsi di kalan gan pria diperparah oleh kesan selama ini bahwa program KB hanya diperuntukan bagi wanita, sehingga pria lebih cenderung bersifat pasif. Hal ini juga nampak dari kecenderungan pengguna tenaga perempuan sebagai petugas dan promotor untuk kesuksesan program KB, padahal praktek KB merupakan permasalahan keluarga, dimana permasalahan keluarga adalah permasalahan sosial yang berarti juga merupakan permasalahan pria dan wanita. Disamping itu kurangnya partisipasi pria dalam penggunaan alat kontrasepsi adalah karena keterbatasan metode untuk pengaturan fertilitas yang dapat dipilih pria (Mutahiah, 2011) Secara biologis pengendalian fertilitas pria lebih sulit dibanding wanita karena pria selalu dalam kondisi subur dengan jumlah sperma yang dihasilkan sangat banyak. Masalah lain untuk mengembangkan metode kontrasepsi baru bagi pria adalah kebutuhan dana yang sangat besar, sehingga menimbulkan hambatan dalam pengembangannya (Mutahiah, 2011) c. Keterbatasan akses pelayanan KB Berbagai hal yang terjadi dan menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan sering mengakibatkan warga masyarakat kurang mampu bersikap terbuka untuk secara jujur menyatakan persepsi dan pandangannya tentang suatu program yang diselenggarakan pemerintah. Karena sering dilandasi oleh persepsi yang kurang positif maka keterlibatan yang ada sering merupakan partisipasi semu. Keadaan yang demikian itu bila sering terjadi maka akan berakibat kurang lancarnya kegiatan sesuaii dengan rencana sehingga menyulitkan usaha pencapaian tujuan program secara utuh dan mantap (Sutopo, 2011). d. Tingginya harga yang harus dibayar untuk MOP Upaya peningkatan partisipasi pria terkendala oleh beberapa ketentuan peraturan daerah yang belum mengakomodir jenis kontrasepsi mantap pria, seperti halnya aspek biaya yang harus ditanggung peserta terlalu tinggi karena masuk rumpun tindakan operasi dirumah sakit umum daerah (RSUD). Dilain pihak biaya bantuan yang tersedia dari BKKBN jumlahnya terbatas dan tidak mampu menutupi biaya yang ditetapkan daerah. Penggunaan dana Asuransi keluarga miskin (ASKES GAKIN) belum lancar sebagaimana diharapkan. Kesepakatan antara pihak asuransi dengan pihak BKKBN sebagai penyedia data dandistribusi Kartu Askes masih mewarnai permasalahan di lapangan. Pelayanan Kontap juga terkendala oleh ketersediaan dan kesiapan tenaga pelayanan, dukungan sarana pelayanan juga menjadi kendala di beberapadaerah, tenaga terlatih sudah banyak yang alih tugas, peralatan kurang lengkap. (BKKBN, 2007) e. Ketidaknyamanan dalam penggunaan KB pria (kondom) Keterbatasan KB kondom salah satunya ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual. Adapun keterbatasan KB kondom yaitu : 1) Efektivitas tidak terlalu tinggi. 2) Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi 3) Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung). 4) Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi. 5) Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual. 6) Beberapa klien malu untuk membeli kondom di tempat umum. 7) Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah (Sarwono, 2010). f. Terbatasnya metode kontrasepsi pria Fasilitas pelayanan KB sempurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis bedah/dokter umum yang telah mengikuti pelatihan dan memberikan pelayanan: cara seerhana, pil KB, suntik KB, IUD, pemasangan dan pencabutan implant, kontap pria, kontap wanita bagi fasilitas yang memenuhi persyaratan untuk pelayanan kontap wanita (Hartanto, 2009) Pelaksanaan pelayanan konseling pada tahap ini menggunakan penggabungan antara pendekatan langsung dengan tidak langsung. Konselor secara aktif memberikan pembinaan kepada akseptor sehinggamemunculkan satu pemahaman konseli atau akseptor bahwa keluarga berencana merupakan kebutuhan dan bagian dari hidupnya danmewujudkannya adanya akseptor motivator. Namun kurangnya minat kontrasepsi pria dapat mengakibatkan pemerintah memproduksi alat kontrasepsi pria (Depkes RI, 2009). g. Kualitas pelayanan KB pria belum memadai dan penerapan program kebijakan partisipasi pria dilapangan masih belum optimal Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan (Saifuddin, 2009). Belum banyaknya tenaga kesehatan dan BKKBN mengikuti pelatihan dalam melakukan evaluasi terhadap sarana, perlu dilihat bagaimana sarana, perlu dilihat bagaimana sarana pendukung kelancaran pelaksanaan pencatatan dan pelaporan diantaranya : 1) Ketersedian formulir dan kartu 2) Ketersedian Buku Petunjuk Teknis pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi 3) Ketersediaan faksimili untuk seluruh kabupaten/kota untuk kecepatan pelaporan 4) Ketersedian komputer sampai dengan tingkat kabupaten/kota (DepKes. RI. 2009)   h. Istri tidak mendukung suami ber-KB Faktor yang terwujud dalam tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan. Salah satu faktor pendukung suatu perilaku kesehatan yaitu dukungan keluarga. Faktor dalam keikutsertaan suami dalam penggunaan KB kondom salah satunya dukungan istri (Sukardi, 2011) Dukungan sosial keluarga sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Menurut Gunarsa (2009), keluarga adalah kelompok sosial yang bersifat abadi, dikukuhkan dalam hubungan nikah yang memberikan pengaruh terhadap keturunan dan lingkungan. Menurut Fadly (2009), Keluarga adalah unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan juga anak-anak yang selalu menjaga rasa aman dan ketentraman ketika menghadapi segala suka duka hidup dalam eratnya arti ikatan luhur hidup bersama. i. Rendahnya kesertaan pria dalam KB dan kesehatan reproduksi di Indonesia. Rendahnya keikutsertaan ber-KB dikarenakan partisipasi pria secara tidak langsung adalah dalam hal mendukung dalam berKB dan sebagai motivator sesuai dengan pengetahuan tentang KB yang dimilikinya. Mendukung dalam ber-KB apabila disepakati istri yang akan ber-KB peran suami adalah mendukung dan memberikan kebebasan kepada istri untuk menggunakan kontrasepsi atau cara/metode KB. Dukungan tersebut meliputi : 1) Memilih kontrasepsi yang cocok yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya 2) Membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar, seperti mengingatkan saat minum pil KB, dan mengingatkan istri untuk kontrol 3) Membantu mencari pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi 4) Mengantarkan istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk kontrol atau rujukan 5) Mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan tidak cocok 6) Membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode pantang berkala 7) Menggantikan pemakaian kontrasepsi bila keadaan kesehatan istri tidak memungkinkan (Sukardi, 2011) Kurang berperannya suami dalam program Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi disebabkan oleh pengetahuan suami mengenai KB secara umum relatif rendah, sebagaimana terungkap pada penelitian Suherni, dkk (1999) bahwa pria yang mengetahui secara lengkap tentang alat kontrasepsi wanita dan pria hanya 6.2%. Itupun hanya diantara pria/suami yang menggunakan alat kontrasepsi. Hasil studi kualitatif BKKBN di DKI dan DIY tahun 1999, memperlihatkan bahwa sebagian besar pria mengetahui tujuan KB yaitu untuk mengatur kelahiran, membentuk keluarga yang bahagia serta menyadari bahwa KB itu penting. Hasil yang relatif sama juga dijumpai dari temuan studi di Jawa Tengah dan Jawa Timur (2001) yang dilakukan 393 pria kawin. Hasil studi ini memperlihatkan bahwa pengetahuan pria tentang pengertian dan tujuan KB pada umumnya cukup baik meskipun belum semua dapat menerangkan secara jelas. Lebih dari setengah responden (58%)menyatakan bahwa KB bermaksud untuk mengatur jarak kelahiran, sebesar 43,5% mengetahui bahwa KB bertujuan untuk mencegah kehamilan, dan yang mengetahui bahwa dengan menjadi peserta KB dapat membatasi kelahiran disampaikan oleh responden sebanyak 41.2%.26. j. Pengetahuan dan kesadaran pria (suami) terhadap KB dan kesehatan reproduksi rendah Keterlibatan pria didefinisikan sebagai partisipasi dalam proses pengambilan keputusan KB, pengetahuan pria tentang KB dan penggunaan kontrasepsi pria. Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa partisipasi pria tidak hanya dalam hal pemakaian alat kontrasepsi saja, tapi juga dalam hal pengambilan keputusan berKB oleh istri ataupun dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pria tentang KB digunakan untuk membantu mensosialisasikan program-program KB (Sukardi, 2011)

Senin, 08 September 2014

Suasana Belasjar dapat meningkatkan hasil belajar

2.4. Suasana belajar 2.4.1. Suasana Belajar yang Kondusif Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Lingkungan pembelajaran dalam hal ini, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif berarti kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Suasana saat kita belajar dapat mempengaruhi efisiensi waktu belajar. Suasana yang kurang kondusif, bisa menimbulkan ketidak-fokusan dalam belajar, dan menyebabkan materi yang dipelajari tidak dapat dicerna dan dipahami dengan baik dan cepat oleh otak. Jadi kita membutuhkan waktu yang lumayan banyak untuk dapat mencerna dan memahami materi tersebut dengan baik. Penataan ruang kelas juga bisa mempengaruhi suasana belajar yang efektif. Penataan kelas standar dapat dilakukan dalam lima gaya penataan, yaitu auditorium, tatap-muka, off-set, seminar, dan klaster. 1. Gaya auditorium, gaya susunan kelas di mana semua siswa duduk menghadap guru. 2. Gaya tatap muka, gaya susunan kelas di mana siswa saling menghadap. 3. Gaya off-set, gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain. 4. Gaya seminar, gaya susunan kelas di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U. 5. Gaya klaster, gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil (Santrock, 2008) 2.4.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar Faktor faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar adalah faktor-faktor yang menentukan terciptakan kondisi belajar yang kondusif, dinamis dan produktif bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Faktor –faktor tersebut secara garis besarnya dikelasifikasikan ke dalam dua faktor yaitu faktor exsogen dan faktor endogen. Fakto exsogen adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa terdiri dari faktor sosial dan non sosial. Sedangkan faktor endogen adalah faktor yang berasal dari diri siswa, terdiri dari faktor fisiologis dan faktor psikologis 2.4.2.1. Faktor Sosial Faktor-faktor sosial di sini adalah faktor yang berhubungan dengan kehadiran manusia, baik manusia itu ada ( hadir ), maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan artinya tidak langsung hadir yang dapat mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Kehadiran sesorang atau orang lain pada waktu siswa sedang belajar dapat mengganggu suasana belajar dalam kelas. Misalnya ketika sesorang guru sedang menjelaskan materi pelajaran kepada siswa dalam kelas, siswa-siswa kelas sebelahnya ribut karena tidak ada gurunya atau siswa-siswa disebelahnya sedang belajar menyanyi atau tiba-tiba seorang siswa yang terlambat hadir datang mengetuk pintu . Hal ini dapat mengganggu suasana belajar di kelas tersebut. Selain daripada itu kehadiran seseorang secara tidak langsung mempengaruhi juga suasana belajar dalam kelas. Misalnya pada waktu siswa-siswa sedang mengerjakan soal-soal matimatika, maka terdengar suara radio atau televisi yang sedangkan menyiarkan pertandingan bulu tangkis atau sepak bola antara kesebelasan Indonesia melawan kesebelasan Korea Selatan 2.4.2.2. Faktor Non Sosial Faktor-faktor non sosial yang dapat mengganggu suasana belajar ini tak terbilang banyaknya antara lain dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor alam dan alat-alat perlengkapan atau fasilitas yang digunakan untuk belajar. Faktor alam misalnya keadaan cuaca. Cuaca yang agak panas tentu akan mempengaruhi belajar siswa di dalam kelas. Selain daripada itu juga waktu belajar. Belajar di waktu pagi hari tentu lebih baik dari pada belajar pada waktu sore hari. Mengenai hal ini telah banyak dilakukan penelitian oleh ahli-ahli pendidikan. Mengenai fasilitas dapat dicontohkan misalnya tempat belajar. Belajar di tempat yang tenang tentu akan lebih berhasil jika dibandingkan dengan belajar di tempat yang gaduh. Hal inipun telah banyak dilakukan penelitian. Selain dari pada itu dapat pula dicontohkan misalnya keadaan gedung. Keadaan gedung yang baik, jika dibandingkan dengan keadaan gedung belajar yang kurang baik, tentu suasana belajarnya akan berbeda. Keadaan gedung yang baik ditunjang dengan fasilitas belajar yang cukup tentu akan membawa pengaruh pada suasana belajar yang baik. 2.4.2.3. Faktor Fisiologis Faktor fisiologis individu juga dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa atau siswi. Faktor fisiologis adalah keadaan jasmani manusia. Keadaan jasmani siswa atau siswa yang segar tentu akan lain dengan keadaan jasmani yang tidak segar pada saat menerima pelajaran dalam kelas. Keadaan jasmani yang lelah tentu akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani siswa yang tidak lelah. Dalam kaitan ini perlu dijelaskan mengenai pengaruh nutrisi terhadap tonus jasmani manusia. Kekurangan kadar makanan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani yang mengakibatkan timbulnya kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, daya tahan rendah, konsentrasi rendah dan sebagainya. Hal ini tentu saja akan membawa pengaruh terhadap aktivitas belajar siswa dalam kelas. Selain dari pada itu keadaan fungsi fisiologis juga mempengaruhi aktivitas belajar siswa terutama fungsi panca indera. Sampai saat ini telah terbukti bahwa diantara panca indera yang lima macam tersebut, mata dan telinga memegang peranan yang penting sekali dalam belajar. Penyelidikan-penyelidikan mengenai daya diskriminasi, kemampuan membuat orientasi, ketepatan dan kecepatan persepsi langsung bersangkut paut dengan fungsi panca indera ini. Lebih-lebih penglihatan ( mata ) dan pendengaran ( telinga ). Siswa yang selalu bertanya karena kurangnya pendengaran dan penglihatan tentu akan mengganggu aktivitas belajar di kelas. 2.4.2.4. Faktor-Faktor Psikologis Belajar sebagai masalah psikologis disyaratkan oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis memegang peranan yang menentukan di dalam belajar. Karena itu sudah sepantasnya faktor-faktor ini mendapatkan pembahasan dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar dalam kelas. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor perhatian, faktor kognitif, faktor affektif, faktor konatif atau motivasi dan intelegensi. 1. Faktor Perhatian Aktivitas belajar mengajar yang baik adalah suatu aktivitas belajar mengajar dimana siswa mendengarkan penjelasan-penjelasan dari guru dengan penuh perhatian dan guru menyampaikan bahan pelajaran dengan penuh semangat. Oleh karena itu di dalam proses belajar mengajar diusahakan agar guru dapat menimbulkan perhatian siswa-siswa nya. Biasanya hal yang menarik perhatian adalah hal yang sangat bersangkut paut dengan pribadi siswa. Suasana belajar yang tidak menarik perhatian akan menimbulkan keributan di dalam kelas. Hal-hal yang menarik perhatian dapat ditunjukan melalui tiga segi ( Wasty Soemanto, 2008 ), yaitu : 1) Segi objek ; hal-hal yang menarik perhatian yaitu hal-hal yang keluar dari konteknya, misalnya : – benda yang bergerak dalam situasi lingkungan yang diam atau tenang. – Warna benda yang lain dari warna benda-benda di sekitarnnya. – Stimuli yang beraksi berbeda dari aksi lingkungannya. – Keadaan, sifat, sikap dan cara yang berbeda dari biasanya – hal yang muncul mendadak dan hilang mendadak. 2) Segi subjek ; hal-hal yang menarik perhatian adalah hal-hal yang sangat bersangkut- paut dengan pribadi subjek, misalnya : – hal-hal yang bersangkut-paut dengan kebutuhan subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan minat dan kesenangan subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan profesi dan keahlian subjek – hal-hal yamh bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman subjek hal -hal bersangkut paut dengan tujuan dan cita-cita subjek. 3) Segi komunikator ; Komunikator yang membawa subjek ke dalam posisi yang sesuai dengan lingkungannya, misalnya : – guru/komunikator yang memberikan pelayanan/perhatian khusus kepada subjek – guru/komunikator yang menampilkan dirinya di luar konteks lingkungannya. – guru/komunikator yang memiliki sangkut paut dengan subjek. Usaha-usaha lainnya yang dapat dilakukan dalam membangkitkan perhatian anak didik dalam belajar mengajar, yaitu penggunaan metode penyajian pelajaran yang dapat diterima oleh anak didik. Penerimaan ini akan efektif apabila pelajaran sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kemampuan anak didik. Ada macam-macam perhatian yang tepat dilakukan dalam belajar yaitu : 1) Perhatian intensif perlu digunakan, karena kegiatan yang disertai dengan perhatian itensif akan lebih terarah. 2) Perhatian yang disengaja perlu digunakan, karena kesengajaan dalam kegiatan akan menegmbangkan pribadi anak didik. 3) Perhatian spontan perlu digunakan, karena perhatian yang spontan cenderung dapat berlangsung lebih lama dan intensif daripada perhatian yang disengaja. 2. Faktor Kognitif Faktor kognitif juga dapat mempengaruhi suasana belajar di kelas. Faktor ini berkaitan erat dengan perhatian. Suasana belajar di mana guru menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode ceramah tanpa menggunakan alat peraga yang menarik dapat menimbulkan kebosanan bagi siswa yang belajar di kelas. Sehingga tujuan institusional yang diharapkan oleh guru tidak akan tercapai karena siswa-siswa tidak mengerti dan tidak mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru dengan penuh perhatian. Oleh karena itu di dalam proses belajar mengajar, faktor kognitif siswa ini perlu diperhatikan dengan jalan menimbulkan minat dan perhatian siswa terhadap bahan pelajaran yang disampaikan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk membangkitkan minat belajar siswa. Pertama, menggunakan cara atau metode dan media mengajar yang bervariasi. Dengan metode dan media yang bervariasi kebosanan dalam belajar dapat dikurangi atau dihilangkan. Kedua, memilih bahan yang menarik minat dan kebutuhkan siswa. Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik perhatian, dengan demikian akan membangkitkan minat untuk mempelajarinya. Ketiga, memberikan sasaran antara. Sasaran akhir belajar adalah lulus ujian atau naik kelas. Sasaran akhir ini baru dicapai pada akhir tahun. Untuk membangkitkan minat belajar maka diadakan sasaran antara, seperti ujian semester, tengah semester, ulangan harian, kuis, dan sebagainya. Keempat, memberi kesempatan untuk sukses. Bahan atau soal-soal yang sulit hanya bisa diterima atau dipecahkan oleh siswa pandai, siswa yang kurang pandai sukar menguasai atau atau memecahkannya. Agar siswa yang kurang pandai bisa menguasai/memecahkan soal, maka berikan bahan/soal yang sesuai dengan kemampuannya. Keberhasilan yang dicapai siswa dapat menimbulkan kepuasan dan kemudian membanglitkan minat belajar. Kelima, ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang hangat berisi rasa persahabatan, ada rasa humor, pengakuan akan keberadaan siswa, terhindar dari celaan dan makian dapat membangkitkan minat belajar siswa. Keenam, adakan persaingan sehat. Persaingan yang sehat dapat membangkitkan minat belajar. Siswa dapat bersaing dengan hasil belajarnya sendiri atau dengan hasil belajar yang dicapai orang lain. Dalam persaingan ini dapat diberikan pujian, ganjaran ataupun hadiah. ( R.Ibrahim dan Nana Syaodah s, 2008) 3. Faktor Afektif Faktor afektif juga dapat mempengaruhi suasana di kelas. Faktor afektif ini berkaitan dengan perasaan. Perasaan yang saling senang menyenangi antara siswa –siswa dalam kelas, guru dengan siswa akan menimbulkan situasi dan kondisi belajar yang kondusif, sehingga guru dapat menyampaikan bahan pelajaran sesuai dengan rencana pengajaran ( Satuan pelajaran ) dan siswa dapat menerima bahan pelajaran tersebut dengan baik. Oleh karena itu hubungan manusiawi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa dalam interaksi belajar mengajar perlu dibina dengan sebaik-baiknya. Apabila siswa tidak menyenangi gurunya sudah barang tentu pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, tidak dikuasainya karena siswa malas mempelajarinya karena benci dengan guru bidang studi tersebut. Selain dari pada itu juga hubungan yang tidak menyenangi antara siswa dengan siswa juga akan menimbulkan suasana belajar yang tidak menyenangkan yang akhirnya mempengaruhi situasi belajar dalam kelas, malahan mungkin sampai keluar kelas. 4. Faktor Konatif atau Motivasi Motif adalah suatu keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan. Jadi motif, bukanlah sesuatu yang dapat diamati, tetapi adalah hal yang dapat disimpulkan adanya karena sesuatu yang dapat kita saksikan. Oleh karena itu untuk menimbulkan sesuatu aktivitas dalam belajar bagi siswa, motif perlu dirangsang . Motivasi ini sangat penting artinya dalam kegiatan belajar mengajar. Pemberian motivasi kepada siswa menimbulkan pesaingan yang sehat diantara siswa-siswa dalam meningkatkan proses belajarnya. Suasana belajar mengajar di kelas akan hidup dan penuh semangat. Pemberian motivasi ini dapat dilakukan dengan memberikan hadiah sesuatu untuk siswa yang berprestasi dikelas, memberikan penghargaan, mengirim siswa untuk mengikuti lomba cerdas cermat dan sebagainya.   5. Faktor Intelegensi Intelegensi memegang peranan penting di dalam kegiatan belajar. Pendapat para ahli mengenai intelegensi ini dalam belajar bermacam-macam. Sementara ahli menganggap intelegensi memegang peranan yang menentukan. Sedangkan yang lain menganggap intelegensi mempunyai peranan yang kecil saja. Namun pada umumnya para ahli beranggapan bahwa intelegensi itu merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Namun demikian harus pula diingat bahwa intelegensi ini dapat juga mempengaruhi aktivitas belajar mengajar di kelas, kalau seorang guru tidak tahu mengarahkan atau mengendalikannya. Selanjutnya kita ketahui bahwa anak di dalam kelas, mempunyai kemampuan intelegensi yang berbeda-beda. Kemampuan anak tersebut secara garis besarnya dapat digolongkan ada yang pintar, sedang dan kurang. Seorang guru atau wali kelas harus mengetahui anak-anak yang termasuk ke dalam kelompok kelompok terebut. Dengan memahami keadaan anak yang demikian, maka seorang guru akan dapat menentukan sikap terbaik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga dengan demikian akan menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif di kalangan anak atau siswa berupa timbulnya gairah belajar yang tinggi dikalangan siswa-siswa. Pada suatu ketika guru tersebut memberikan tugas kepada salah seorang siswa mengerjakan soal-soal matimatika ke depan kelas. Ternyata soal tersebut merupakan soal yang tingkat kesukaranya cukup tinggi dan anak yang disuruh mengerjakan soal tersebut adalah anak yang termasuk dalam kelompok kurang. Akibatnya soal tersebut tidak mampu diselesaikan oleh anak yang bersangkutan. Demikian seterusnya soal yang sukar diberikan pada anak yang sedang ataupun kurang. Soal yang sedang diberikan kepada anak yang kurang dan yang pintar. Sehingga menyebabkan anak yang kurang dan yang sedang tidak mampu menyelesaikan soal-soal tersebut. Akibatnya menurunnya gairah belajar anak. Berbeda dengan hal di atas, apabila seorang guru memahami tentang keadaan siswa-siswanya, maka di dalam memberikan tugas untuk mengerjakan soal soal matimatika tersebut tentu disesuaikan dengan kemampuan anak masing-masing. Akibatnya soal-soal yang dikerjakan anak anak atau siswa tersebut dapat diselesaikan semua. Hal ini akan menimbulkan semangat belajar pada anak atau siswa-siswa tersebut di dalam kelas. Berdasarkan uraian di atas maka jelaslah kepada kita bahwa betapa pentingnya seorang guru atau wali kelas memahami tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar anak atau siswa di dalam kelas. Mengetahui faktor-faktor tersebut seorang guru atau wali kelas akan mampu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menciptakan, mempertahankan dan mengembangkan situasi belajar mengajar yang efektif, kondusif dan produktif di dalam kelas dalam rangka mencapai tujuan sebagaimana yang telah digariskan di dalam kurikulum sekolah sesuai dengan tngkat dan jenis pendidikan masing-masing.

Rabu, 16 Juni 2010

Rabu, 16 Juni 2010

Saya skrang sangat pusing dengan tingkah laku cwekku, marah-marah aja hanya bisanya. Mulai ragu sy dengan kbahagiaan yang akan datang dari hidupnya, apakah sanggup sy memenuhi smua kemauan dia yang sangat konsumtif, modelik, serta memiliki fiil yang besar atas apa yang dimiliki orang lain dia harus lebih baik,.,
Sabar... sabar... sabar...sabar! Itu aja yg sy bisa lakukan untuk mempertahankan hubungan dengannya.,.,.
Taik semua yang ada pada dirinya, saya bagaikn anak kecil yang slalu diatur dirinya, dia mulai melarang untuk maen bola, padahal saya pazling jijik ma cwek yang sok ngatur dalam kehidupan saya, apa lagi dalam hal maen bola.
Ingin sy meninggalkan hidupnya, tapi saya berpikir sy udah ngancurin hidupnya maka dari itu saya bertahan untuk hidup dengan dirinya walaupun saya mulai tidak bahagia,.,.,

Rabu, 20 Januari 2010

DOA TAUBAT


Astaghfirullaahal’azhiimi.
Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wain lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriina. Rabbana aghfirlanaa dzunuubanaa wa kaffir’annaa sayyiaatinaa wa tawaffanaa ma,al abraari. Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadhdhaalimiina.
Allahummaghfirlii dzanbii kullahu diqqahu wa jillahu wa awwalahu wa aakhirahu wa’alaa niyatahu wa sirrahu.
Allahumma inni zhallamtu nafsii zhulman katsiiran kabiiran.Walaa yaghfirudz dzunuuba illa anta, faghfirlii maghfiratan min ‘indika warhamnii innaka antal ghafuurur rahiimu.

Artinya:
“Aku memohon ampun atas segala dosaku kepada Allah Yang Maha Agung. Ya Tuhan Kami, kami terlanjur berbuat aniaya terhadap diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihi kami, pastillah kami ini tergolong orang yang rugi. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami bersama orang-orang yang baik. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zhalim. Ya Allah, ampunilah dosaku semuannya, baik yang halus maupun yang kasar, yang terdahulu dan yang kemudian, yang nyata dan yang tersembunyi. Ya Allah, aku telah menganiaya diriku sendiri dengan aniaya yang banyak lagi besar, padahal tak ada yang dapat mengampuni dosaku selain Engkau, karena itu ampunilah segala dosaku dengan ampunan dari hadirat-Mu dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Selasa, 12 Januari 2010

tanggal 12 januari 2010. saya merasakan juara 1 dalam kompetisi sepak bola.
tapi disaat ini saya kehilangan wanita yang saya sayangi. saya akan dan harus mendapatkan cinta sejati saya lagi.

Selasa, 29 Desember 2009

sekarang saya lgi pusing ni.,.,.,.
sya pengen bgt nikah ma dia tapi sy gx ada modal.,.,.,
moga alllah kasih rezeki buat saya toex menikah tahun 2011. amin

Kamis, 05 November 2009

Pertama kali saya disukai wanita, saat itu saya masih dibangku SD. Dia wanita cantik larasnya seperti cina, dia menyukai saya ketika saya maen bola di SD 3. Dia selalu melihat saya saat bermain bola dan pada suatu saat dia mengirim surat kepada saya melalui adeknya. Singkat surat itu tertulis " I love U dika " ketika itu kawan saya merebut surat itu dan dibaca ke depan kelas respon ku hanya menangis karena malu..,.,., aneh ya.,.,.,
Lulus lah saya dari SD dan sekolah ke SMP. Cerita di SMP juga gx kalah seru ni.,.,., Kehidupan saya saat itu hanya sekolah dan bermain bola, tapi aneh saat itu saya punya teman dekat satu hobi yaitu febri n firman. Kami bertiga selalu maen bareng saat disekolah maupun di lapangan. Suatu ketika saat kami mancing curhat lah kami bertiga di sana.,.,., kami cerita wanita yang kami sukai di SMP. Dengan om pimpah kami berkomitmen sapa yang menang itulah yang cerita duluan . Saat itu firman yang menang dia bercerita dia suka dengan temen sekelas namun anehnya wanita itu adalah wanita yang saya n febri sukai.,.,., Dari itu saya berubah haluan menyukai wanita lain. Wanita itu lumayan cantik, tapi bukan kecantikannya yang saya sukai tetapi kekuatan berlarinya yang saya sukai. Saat valentine kami mengadakan acara dirumah teman saya bingung mau ngasih apa untuk dia. Berangkatlah saya ke pasar tuk beli sepasang topi yang berwarna biru n pink. Ketika itu saya terinspirasi saat melihat sinetron tersayang.,.,. aneh ya.,.,
Saya kasihlah topi dengan malu-malu yang berwarna pink. dia menerimanya dengan malu-malu (biasalah anak SMP cintanya cinta monyet). Selama saya menyukainya saya tidak berani mengungkapi rasa suka saya sama dia karena saya malu dan berpikir apa mau dia sama saya yang ompong ini.(hihihihi ketauan juga asli saya)
Saat itu juga ada murid baru yang pindah dari SMP sebelah dia adek kelas saya. Tahu siapa murid itu dia adalah wanita yang mengirim saya surat saat SD. Dia masih suka sama saya saat itu tapi iya tau kalau saya suka sama cwek kuat itu Sebut aja C2. Sampai saya kelar SMP saya gx sanggup mengungkapin rasa sayang say a sama C2.